Perang Harus Dihentikan: Karena Tidak Ada yang Benar-Benar Menang
Perang sering dibungkus dengan narasi kepentingan nasional, keamanan, ideologi, atau perebutan wilayah. Namun di balik istilah-istilah besar itu, ada kenyataan yang tidak bisa disangkal: yang paling menderita bukanlah para pengambil keputusan, melainkan orang-orang biasa. Anak-anak, ibu-ibu, orang tua, pekerja harian, petani, pedagang kecil—mereka yang tidak pernah meminta konflik, tetapi harus menanggung akibatnya.
Ribuan tentara mungkin gugur di medan perang. Mereka disebut pahlawan, dan pengorbanan mereka dihormati. Namun jarang kita bertanya lebih jauh: bagaimana dengan keluarga yang ditinggalkan? Istri yang harus membesarkan anak sendirian. Anak yang tumbuh tanpa figur ayah atau ibu. Orang tua yang menunggu kepulangan yang tak pernah terjadi. Duka itu tidak selesai dalam sehari, tidak hilang dalam setahun. Ia menetap, menjadi bagian dari kehidupan mereka selamanya.
Di sisi lain, ribuan warga sipil juga kehilangan nyawa. Mereka bukan kombatan. Mereka tidak memegang senjata. Mereka hanya ingin menjalani hidup seperti biasa—bersekolah, bekerja, beribadah, membangun mimpi. Namun bom tidak memilih siapa yang pantas hidup. Peluru tidak membedakan antara prajurit dan anak kecil. Infrastruktur hancur, rumah sakit lumpuh, sekolah rata dengan tanah. Ketika listrik padam dan air bersih langka, penderitaan tidak lagi hanya tentang ledakan, tetapi tentang kelaparan, penyakit, dan trauma berkepanjangan.
Perang bukan hanya soal korban jiwa. Ia adalah tentang masa depan yang dirampas. Anak-anak yang tumbuh dalam bayang-bayang kekerasan sering mengalami trauma mendalam. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pengalaman konflik di usia dini berdampak pada kesehatan mental jangka panjang—kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma. Bagaimana generasi berikutnya bisa membangun perdamaian jika sejak kecil mereka hanya mengenal suara ledakan dan ketakutan?
Lebih jauh lagi, perang menggerus sumber daya yang seharusnya bisa digunakan untuk kesejahteraan manusia. Anggaran militer yang mencapai triliunan dolar secara global setiap tahun adalah angka yang mencengangkan. Bayangkan jika sebagian kecil saja dari dana itu dialihkan untuk pendidikan, kesehatan, energi bersih, atau penanggulangan kemiskinan. Dunia mungkin akan jauh berbeda. Kelaparan bisa dikurangi, akses air bersih diperluas, penyakit dicegah, dan kesempatan hidup yang lebih layak bisa diberikan kepada jutaan orang.
Sering kali ada argumen bahwa perang adalah jalan terakhir untuk mempertahankan kedaulatan atau melawan ketidakadilan. Namun sejarah menunjukkan bahwa kekerasan jarang menyelesaikan akar masalah. Konflik yang diselesaikan dengan senjata sering menyisakan bara dendam yang sewaktu-waktu bisa menyala kembali. Perdamaian yang dipaksakan tanpa rekonsiliasi sejati hanyalah jeda sebelum konflik berikutnya.
Diplomasi memang tidak selalu mudah. Negosiasi membutuhkan kesabaran, kompromi, dan kemauan untuk mendengar pihak lain. Tetapi di situlah letak kematangan peradaban. Kemampuan menyelesaikan perbedaan tanpa menghancurkan satu sama lain adalah tanda kemajuan sejati manusia. Jika kita mampu menciptakan teknologi canggih dan jaringan global yang menghubungkan miliaran orang, mengapa kita masih gagal menciptakan sistem yang mencegah peperangan?
Kampanye untuk menghentikan perang bukanlah bentuk kepolosan atau idealisme kosong. Ia adalah panggilan kemanusiaan. Seruan bahwa nyawa manusia lebih berharga daripada ambisi politik. Bahwa masa depan anak-anak lebih penting daripada ego kekuasaan. Bahwa rasa aman dan martabat hidup adalah hak setiap individu, tanpa memandang bangsa, agama, atau latar belakang.
Menghentikan perang bukan hanya tanggung jawab pemimpin dunia. Ia juga membutuhkan suara masyarakat global. Media, organisasi kemanusiaan, akademisi, tokoh agama, dan warga biasa memiliki peran penting dalam membentuk opini publik dan menekan pengambil keputusan untuk memilih jalur damai. Kesadaran kolektif bahwa kekerasan bukan solusi harus terus diperkuat.
Kita juga perlu mengubah cara kita memandang konflik. Alih-alih melihatnya sebagai pertarungan “kita versus mereka”, kita harus menyadari bahwa penderitaan di satu belahan dunia berdampak pada stabilitas global. Krisis pengungsi, gangguan ekonomi, ketidakstabilan politik—semuanya saling terhubung. Dunia saat ini terlalu terintegrasi untuk menganggap perang sebagai masalah lokal semata.
Tidak ada perang yang benar-benar menghasilkan kemenangan mutlak. Bahkan pihak yang disebut “menang” tetap menanggung kerugian—kehilangan nyawa, trauma, beban ekonomi, dan reputasi moral. Pada akhirnya, perang selalu meninggalkan daftar panjang nama-nama yang tidak akan pernah kembali.
Karena itu, himbauan untuk menghentikan perang adalah himbauan untuk melindungi kemanusiaan itu sendiri. Setiap hari konflik berlanjut, ada keluarga yang kehilangan orang tercinta, ada anak yang kehilangan masa kecilnya, ada kota yang kehilangan harapannya. Apakah kita akan terus membiarkan ini terjadi dengan dalih kepentingan yang tidak pernah sepenuhnya menjamin kedamaian?
Kita perlu berani mengatakan bahwa cukup sudah. Cukup dengan darah yang tertumpah. Cukup dengan generasi yang tumbuh dalam ketakutan. Cukup dengan retorika yang mengorbankan yang lemah demi yang kuat.
Menghentikan perang memang tidak sederhana. Ia membutuhkan komitmen politik, kerja sama internasional, serta keberanian moral. Namun sejarah juga menunjukkan bahwa perubahan besar sering dimulai dari kesadaran bersama bahwa sesuatu harus dihentikan.
Dunia yang damai mungkin terdengar seperti impian. Tetapi impian itulah yang seharusnya menjadi tujuan peradaban. Karena pada akhirnya, tidak ada bangsa yang benar-benar aman jika bangsa lain terus hidup dalam ketakutan. Tidak ada kemajuan yang berarti jika ia dibangun di atas reruntuhan dan air mata.
Perang harus dihentikan—bukan hanya demi mereka yang hari ini menjadi korban, tetapi demi generasi yang belum lahir dan berhak mewarisi dunia yang lebih manusiawi.
